Di Bawah Tiang Bendera

DanielSahuleka

You Make My World So Colourful Morning sunshine in our room Now that room is back in tune Autumn start this day with a smile And laugh at my beautiful love one Who? s lying besides me You so far away in your sleep Who can tell what dream you may dream You dont know that I was drawing With my finger on your sweet young face Vague as a meaning words [*] You make my world so colorful I never had it so good My love I thank you for all the love [From: http://www.elyrics.net] You gave to me Like a summer breeze so soft Like a rose you bring me near And I kiss your lips so sweet Soft like the rain and gentle as The morning dew in may Though they said that I was wrong But thank god my will so strong I got you in the palm of my hand Everyday they tried to put me on But I laugh at those who tried to hurt our love [* Repeat Till Fade] Lyrics from eLyrics.net

content-list

JKB-10, Jagad-KANTATA, Jagad-SWAMI, ........., ..............,

Kamis, 01 April 2010

musikalisasi-puisi

SEJARAH
PERKEMBANGAN MUSIKALISASI PUISI
DI INDONESIA



Bicara masalah musik puisi, kita dihadapkan pada persoalan pengertian musik itu sendiri, musik yang dipuisikan atau puisi yang dimusikkan? mana yang tercipta lebih dahulu lagu atau syairnya., lagu yang tercipta dahulu baru diisi dengan syair puisi, ada yang puisinya tenar dahulu baru dimusikalisasi. Namun kebanyakan musik puisi adalah puisi dahulu baru dimusikalisasi, puisi ditulis oleh penyair kemudian dibaca, ditafsirkan, dan dihayati kemudian penyampaian penafsiran dan penghayatan dilakukan melalui serangkaian nada, jadilah lagu. Namun beberapa puisi mempunyai ritme yang alami, mampu menghasilkan bunyi, memiliki intonasi nada seperti karya-karya Sutardji C. Bachri. Seandainya karya Sutarji tidak diperhitungkan intonasinya akan berkurang dalam penafsiran dan penghayatan karyanya.

Musik puisi pernah menghias jagat musik era 70-an di Indonesia. Beberapa seniman mencoba untuk memusikalisasikan puisi antara lain, puisi Sanusi Pane, Chairil Anwar, Kirdjomulyo, Ramadhan K.H. Karya sastra tersebut digubah menjadi lagu oleh komponis dan penulis lagu seperti FX. Sutopo dll. Syair pada lagu bercerita tentang persoalan hidup, tentang lingkungan hidup, keindahan alam. Bimbo, bisa dikatakan sebagai penggebrak “avendgarde” musik puisi di Indonesia. Mereka bekerjasama dengan penyair Taufik Ismail “Dengan puisi aku bernyanyi”. Mereka memberi warna baru, syair-syairnya mengandung perenungan, Ballada, “Kerakap di atas Batu”, “Siapa Bilang Itu yang Bernyanyi” . Kemudian musik Indonesia dikejutkan dengan duo Frenky & Jane yang membawakan lagu musik akustik, country (Ballada), mereka berkerjasama dengan penulis puisi Yudistira Aan Nugroho. Sedangkan pada penyanyi wanita, musik puisi syairnya bercerita tentang alam Seperti Ully Sigar Rusadi (Vicki Vindi Vici), Elly Sunarya, Rita Ruby Hartland “Kepada Alam dan pencintanya”.

Mengenai sejarah musik puisi kita juga harus ingat peran para seniman Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi dengan murid2nya seperti Ebied G. Ade, Emha Ainun Najib, Ragil Suwarna Pragolapati, Deded Er Moerad yang selalu membawa puisi-puisinya dengan musik. Kemudian seniman jalanan di Surabaya seperti Leo Kristi, The Gembel, Gombloh & The Lemon Tree. Di Bandung ada penyanyi bertutur Doel Sumbang, Harry Rusly and the Gank.

Karya-karya puisi yang sukses diblantika musik Indonesia, memiliki ketajaman pada syair, ada yang berirama syahdu, kontemplatif, percintaan, sujud syukur Pada Tuhan atas karunia alam semesta. seperti Ebied G. Ade “Berita Kepada Kawan”, “Untuk Kita Renungkan” Ada pula musik puisi kritik sosial, serta membaca realita kehidupan. Seperti Iwan Fals. Ia pernah musikalisasi puisi karya-karya Ws. Rendra Seperti “Kesaksian”, Musik puisi juga ada yang dilantunkan dengan semangat bravura, coraknya condong ke nafas nasionalisme, Gombloh “Kebyar-kebyar” (sekarang menjadi lagu wajib bersanding dengan lagu nasional lainnya.). Ia juga membawakan lagu dengan bahasa khas wong cilik, bahasa sehari-hari, tentang gelandangan, tukang becak, para pelacur (orang-orang malam), lorong-lorong kumuh dan sumpek. Selain itu Gombloh pernah menyanyikan karya sastra Ronggowarsito “Hong wilaheng”. Sedangkan Leo Kristi pemahaman musik puisinya sangat kritis terhadap lingkungan, ia membicarakan tentang rakyat, tentang penghormatan terhadap tokoh-tokoh pahlawan nasional. musiknya akustik, di tambah variasi-variasi peralatan tradisional yang dimiliki suku-suku di nusantara seperti lagu “Gulagalagu”. Beberapa lagu Doel Sumbang, Harry Rusli memiliki lirik puisi bagus, lebih deskriptif (bercerita panjang lebar) cenderung jenaka.

Musikalisasi puisi juga ada yang tak mampu menembus pangsa lagu-lagu komersil, akan tetapi kehadirannya dapat mengisi blantika musik Indonesia meski tak setenar penyanyi lain. Banyak karya-karya puisi yang coba dimusikalisasikan seperti karya Umbu landu paranggi “Kuda Putih”, “Apa ada Angin di Jakarta”. Antologi puisi Gunawan Muhammad “Parikesit”, Darmanto Yatman, Sapardi Joko Damono “Dukamu Abadi”. karena tingkat kesulitan dalam penyelarasan syair dan musik kekinian. Andaipun bisa menggunakan musik bertutur, atau meminimalis musik (akustik) dan lebih ditonjolkan pada syairnya.

Banyak penyanyi yang mengusung musik puisi karya sendiri atau dari karya penyair lainnya seperti Wanda Chaplin (Papa T. Bob), Toar Tangkau, Bram Kampungan. Boedi Soesatio yang membuat kumpulan Musikalisasi puisinya Emha Ainun Nadjib, Ags Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana dalam album “Akan Kemanakah Angin”. Hingga di awal tahun 2000 Festifal-festifal musik puisi di selenggarakan di balai budaya maupun di tingkat komunitas-komunitas seni. Mungkin ini salah satu kiat dari para seniman dalam mengenalkan karya-karyanya kepada publik. Imbas dari musik bersyair puitis di blantika musik Indonesia, banyak buku karya sastra lama terbit ulang, di samping itu perburuan buku karya sastra menjadi “trend” di kalangan anak muda.
Pada era sekarang ada beberapa lagu yang penggarapaannya mengutamakan kualitas syair, seperti lagu Katon Bagaskara (KLA Project), Dewa 19, Padi, Melly, Sheila On 7, Debu, Coklat, Letto, Ungu. namun juga ada yang cenderung terispirasi karya sastra. Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Muhammad Iqbal, Jallaludin Rumi, Khalil Gibran. Mereka tidak membawakan karya secara utuh, mengambil sebagian atau pengadaptasian kata dengan musik. Penggarapan musik puisi dengan menggunakan berbagai macam aliaran musik Pop, Dangdut, Qosidah, Rap, Rock. Hal ini tergantung kepiawaian seorang pengaransemen dalam mengemas musik puisi tersebut. Masalah layak dan tidak layak musik itu dikonsumsi dikembalikan pada kritisi penikmat musik itu sendiri.
_______________________
(kiriman; aloeth-pathi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar